Jenewa, Swiss – Pertemuan World Health Assembly (WHA) ke-79 yang digelar tanggal 18—23 Mei 2026 menyoroti berbagai perkembangan penting dalam penguatan sistem kesehatan global. Salah satu topik besar yang dibahas di dalam pertemuan tersebut mengenai peningkatan akses terhadap produk kesehatan, penguatan kapasitas manufaktur lokal, serta penguatan sistem regulatori.
Dalam sesi Address by the Director-General of WHO pada Selasa (19/5/2026), Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan sejumlah capaian WHO selama 12 bulan terakhir. Salah satunya adalah penetapan 5 negara tambahan sebagai WHO-Listed Authority (WLA).
“Untuk mempercepat proses prakualifikasi dan pengadaan, kami menetapkan otoritas regulatori di 5 negara berikut sebagai WHO-Listed Authorities, yaitu Australia, Kanada, Indonesia, Jepang, dan Inggris,” ujar Tedros. Pernyataan tersebut semakin menegaskan pengakuan internasional terhadap kapasitas sistem regulatori Indonesia dalam menjamin keamanan, khasiat, dan mutu produk kesehatan sesuai standar global.
Sejalan dengan agenda penguatan sistem kesehatan global tersebut, Pemerintah Republik Indonesia bersama Developing Countries Vaccine Manufacturers Network serta sejumlah mitra global menyelenggarakan side-event bertajuk “Advancing Local Production for Equitable Access, Resilient Health Systems, and Global Health Security”. Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi para pemimpin kesehatan global, regulator, organisasi internasional, produsen vaksin, serta mitra pembangunan untuk mendorong penguatan kapasitas produksi lokal dan regional guna mendukung ketahanan kesehatan global.
Side-event tersebut juga menghadirkan sejumlah tokoh penting kesehatan global, di antaranya Menteri Kesehatan Republik Indonesia; Menteri Kesehatan, Kesejahteraan, dan Olahraga Belanda; Director General National Agency for Food and Drug Administration and Control (NAFDAC) Nigeria; Chief Executive Officer (CEO) Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), CEO Gavi (the Vaccine Alliance), serta berbagai pemimpin lembaga kesehatan internasional lainnya.
Pada sesi panel “Building Resilient Vaccine Ecosystems”, Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan short remarks dengan tema “Strengthening Regional Vaccine Manufacturing and Trust in the Global South”. Kepala BPOM menekankan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang terus berkembang.
“Dalam lanskap yang terus berkembang ini, kolaborasi bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan,” ujar Kepala BPOM.
Kepala BPOM juga menegaskan bahwa penguatan sistem regulatori berbasis sains dan harmonisasi regulasi menjadi fondasi penting dalam mempercepat pengembangan sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap vaksin. “Sistem regulatori yang kuat menjadi elemen strategis untuk memperkuat kepercayaan sekaligus mempercepat pengembangan dan produksi vaksin, terutama di negara-negara Global South,” jelasnya.
Kepala BPOM menggarisbawahi bahwa kolaborasi dan inovasi perlu terus diperkuat guna mendukung sistem kesehatan yang lebih tangguh di masa mendatang. “Semangat kolaborasi dan inovasi akan mengantarkan negara-negara Global South menuju ketahanan kesehatan yang lebih kuat serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat,” tutup Kepala BPOM. (KS-Putri)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat