Jakarta - BPOM mendorong pengembangan probiotik berbasis mikroorganisme lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat inovasi pangan yang aman, bermutu, dan bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Didukung kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia, pengembangan probiotik nasional dinilai memiliki peluang besar untuk menghasilkan produk yang berdaya saing global, sepanjang didukung riset ilmiah yang kuat, regulasi yang adaptif, serta kolaborasi lintas sektor.
Pesan tersebut disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar saat membuka International Seminar "Probiotics: Opportunities and Challenges for Development" secara virtual, Selasa (4/8/2026). Diselenggarakan di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM, seminar ini menjadi wadah kolaborasi regulator, akademisi, peneliti, dan industri dalam memperkuat ekosistem inovasi probiotik berbasis ilmu pengetahuan.
"Indonesia merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, termasuk kekayaan mikroorganisme yang berasal dari pangan fermentasi tradisional maupun ekosistem khas Indonesia,” tutur Kepala BPOM. “Potensi ini merupakan aset strategis yang dapat dikembangkan menjadi sumber inovasi probiotik di masa depan," lanjutnya.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, BPOM telah membangun kerangka regulasi melalui Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pengawasan Klaim pada Label dan Iklan Pangan Olahan serta Peraturan BPOM Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Suplemen Kesehatan Mengandung Probiotik. Regulasi tersebut menjadi landasan agar inovasi probiotik berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dengan tetap menjamin perlindungan konsumen.
Saat ini, BPOM telah menetapkan 16 jenis mikroorganisme yang dapat digunakan dalam pangan olahan. Namun, setiap klaim probiotik harus dibuktikan melalui evaluasi ilmiah yang ketat berdasarkan keamanan, identitas strain, serta manfaat kesehatannya. Hingga saat ini, produk susu fermentasi berperisa PT Yakult Indonesia Persada dengan Lacticaseibacillus paracasei strain Shirota atau Lactobacillus casei strain Shirota, menjadi salah satu produk yang telah memperoleh persetujuan klaim probiotik dari BPOM.
BPOM juga mendorong peneliti dan pelaku industri untuk terus menghasilkan bukti ilmiah berkualitas, mulai dari identifikasi mikroorganisme, pengujian keamanan, pembuktian manfaat klinis, hingga penyusunan klaim kesehatan yang bertanggung jawab. Dengan demikian, inovasi probiotik yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai ilmiah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Presiden Direktur PT Yakult Indonesia Persada Toshiyuki Iwamoto menyampaikan dukungannya terhadap upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia melalui peran yang bermanfaat untuk menunjang kesehatan saluran pencernaan. Menurutnya, perusahaannya siap memperkuat kerja sama dengan BPOM untuk berkontribusi bagi kesehatan dan kebahagiaan seluruh masyarakat Indonesia. “[Salah satunya] dengan memastikan probiotik menjadi bagian yang lebih dekat dalam kehidupan masyarakat,” ujar Toshiyuki Iwamoto.
Seminar internasional tersebut menghadirkan pakar dari Jepang dan Indonesia yang membahas perkembangan terkini riset probiotik, mulai dari pemanfaatan teknologi genomik dalam memahami mikrobiota usus, pembuktian ilmiah manfaat strain probiotik, hingga potensi mikroorganisme lokal Indonesia sebagai sumber pengembangan pangan fungsional.
Para narasumber seminar hari ini, yaitu Yakult Central Institute Masanobu Nanno dan Takuya Akiyama, serta peneliti dari IPB University Lilis Nuraida terlibat diskusi aktif bersama peserta dengan moderator Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama Tepy Usia. Para narasumber menyoroti pentingnya kolaborasi internasional untuk mempercepat inovasi probiotik sekaligus memperkuat kapasitas riset, laboratorium, dan pengembangan teknologi. Melalui sinergi antara regulator, akademisi, dan industri, diharapkan hasil-hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman, berkualitas, dan memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. (HM-Nelly)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat